Memori ini terus melekat dikepalaku. Hei, saat ini aku sudah berada di 2021, jika dihitung sudah 8 tahun lamanya aku menyimpan rasa kekesalan ini. Bukan kesal terhadap siapa, namun aku kesal terhadap diriku sendiri yang tidak mau berbicara degannya saat itu.
2013 adalah tahun dimana aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Tepatnya di kelas 2. Saat itu, sekolah sedang gencar-gencarnya melakukan pelatihan untuk kegiatan o2sn. Kala itu, aku termasuk peserta fls2n cabang seni (rahasia hehe), yang nyatanya sangat tidak di dukung kedua orang tuaku. Orang tuaku sangat memaksa aku untuk ikut cabang olahraga (rahasia) itu, padahal aku sama sekali tidak suka olahrga. Alhasil aku di cemooh, di pandang rendah oleh kedua orang tuaku, maupun teman-temanku yang menganggap seni itu rendahan.
Oke, meskipun begitu, aku tidak pernah menyerah untuk mengikuti cabang seni itu. Saat aku mengikuti lomba itu di tingkat kecamatan, aku gagal mendapatkan posisi pertama, melainkan hanya diposisi kedua. Yahh gagal lagi membuktikan kesemua orang bahwa aku bisa, dan lagi-lagi, aku di pandang rendah oleh semua orang. Jujur, masa-masa SMP adalah masa tersuram yang pernah aku jalani. Tidak ada kebahagiaan yang bebas, lingkungan yang toxic, sangat membuatku labil dalam segala hal. Ya tidak dipungkiri, umur segitu memang umurnya remaja yang paling rentan. Pergaulan bebas, kekerasan, narkotika itu hal yang rentan sekali untuk anak-anak SMP. Apalagi banyak sekali kasus sepasang remaja yang berpacaran melewati batas, hasil biasa yang didapat yaitu hamil yang berhujung nikah dibawah umur. Oleh sebab itu, orang tuaku sangat memaksa aku melakukan kegiatan yang tidak aku suka (olahraga), padahal mereka harusnya tahu bahwa aku lebih suka seni.
Lanjut cerita nengenai lomba tingkat kecamatan tadi, meskipun aku kalah, namun ada banyak teman-teman yang lolos masuk ke tingkat kabupaten, salah satunya cabang yang sangat orang tuaku tuntut. Hmmm dengan terpakasa, aku mengikuti mama untuk menonton olahraga tersebut. Awalnya aku sangat terbebani, bahkan sampai disana aku banyak diam. Tatkala mama dan orang-orang sangat brrsemangat sekali menyoraki pemain, aku pun mau tak mau melihat juga.
Wushhhh
Angin menerpa rambut panjangku, poniku yang sangat aku sayangi terhempas oleh angin dan membuka mataku dengan lebar. Yaa aku melihat tim laki-laki yang sedang panas-panasnya bermain untuk merebut kemenangan. Awalnya aku tertegun, karena mereka semua lumayan tampan semua, dan ada satu pemain yang paling tampan, alhasil aku melongo dan tanpa sadar aku terus melihat permainan mereka.
Saat sedang istirahat babak pertama, mereka berkumpul bersama pelatihnya tak jauh dari tempat aku duduk. Bisa dibayangkan ya.. bagaimana roman wajah anak SMP yang kagum melihat syurga dunia HAHA. aku terus berfokus pada anak yang bernomor punggung 4 itu. Badannya yang lumayan tinggi, bermata sipit dan model rambut ala-ala aliando sangat membuat aku terpesona. Haha jika diingat-ingat, betapa menggelikannya aku saat itu sampai-sampai aku lupa rasa kesalku terhadap mama yang memaksa aku untuk ikut menonton. Namun karena rasa kesalku terobati dengan adanya tim tampan ini, aku pun merasa sedikit bersyukur haha.
Lanjut untuk ke babak selanjutnya, mereka berpindah posisi dan membuat semuanya jadi kelihatan jelas dimataku (saling berhadapan). Tanpa sadar aku semangat juga untuk menonton. Namun ada yang aneh. Saat mereka bermain, mereka seperti terus menertawakan sesuatu, namun arah pandangannya terus tertuju dimana aku duduk. Aku pun terus menoleh kesana kemari, namun aku masih tak mengerti apa yang mereka tertawakan.
"Apa aku sejelek itu kah?" Ucapku dalam hati
"Hei, kalau dilihat-lihat, aku cukup oke kok. Rambutku panjang, kulitku cukup putih. Eihh tapi tetap saja banyak juga wanita-wanita lain yang lebih cantik nenyoraki dan menyemangati mereka. Benar.. apalah aku.. kentang" keluhku dalam hati
HAHA.. jiwa insinyur eh insecure sudah melekat dari dulu ya. Sampai aku sangat tidak mood lagi untuk menonton olahraga itu. Alhasil aku memainkan smparthpone dan berbicara dengan teman sekelas yang saat itu juga sedang menonton. Namun betapa kagetnya aku, ketika dia juga kegirangan menonton tim tampan itu, terutama anak bernomor punggung 7. Haha masa-masa cinta monyet.. dia juga terpesona rupanya. Namun aku masih kesal, karena tim itu saat bermain tertawa cukup jelas seraya menunjuk-nunjuk ke arah aku duduk. Fix, aku insinyur lagi..
Babak kedua selesai dan dimenangkan oleh mereka. Aku masih asik berbincang-bincang dengan teman, ber swa foto memakai hp jadul dan bercanda ria. Sampai aku sangat terkejut, tim tampan itu lewat didepan kepalaku, sangat dekat bahkan baju-bajunya juga ada yang menyentuh lenganku. Saat itu, posisi dudukku diatas rumput lapangan, dan mereka berjalan begitu saja. Aku masih kesal, apa yang mereka tertawakan sih?
Lanjut saat temanku ingin membeli jajan, jiwa malas gerak (mager) sudah sangat melekat di diriku. Sampai-sampai aku ingin rebahan saja. Saat itu pula aku merebahkan setengah badan kebawah (membungkuk) dan memainkan hp jadul itu. Saat aku mulai merasa pegal, aku dikagetkan dengan orang yang duduk tepat didepanku hanya berjarak 1 meter. Alhasil kami bertatap-tatapan, lama sekali. Tiada senyum, tiada ekpresi. Jika di ingat-ingat, kami bertatapan sampai 5 menit. Wadidaw tanpa terasa.. HAHAH. Namun kemudian aku tersadar, bahwa kami sedang adu mata, dan aku langsung mengalihkan pandangan, seraya memainkan hp jadul itu. Aku masih penasaran, kenapa dia duduk di depanku? Ya.. dia adalah salah satu anggota tim tampan yang dari tadi kulihat. Hawa keberadaanya saat bermain tidak terlihat olehku. Karena aku sangat berfokus pada satu anak bernomor punggung 4 tadi. Sedangkan dia bernomor punggung 5, badan yang tidak tinggi juga. Tidak terlalu tampan juga. Tingginya sama denganku. Akhirnya aku menoleh kembali kepadanya, dan kagetnya aku, dia tersenyum melihatku. WTF?!!
Sontak saja aku mengerutkan dahi keheranan.
"Kenapa dia senyum kepadaku? Hei apa yang lucu? Jelas-jelas kau mentertawakan aku. Tapi kenapa jadi manis? Arghhh" ucapku dalam hati
Aku hanya bisa melongo melihatnya, dan mengalihkan pandanganku ke hal yang lain lagi. Sambil berpura-pura menyoraki lapangan perempuan, padahal pikiranku fokus kepada anak bernomor punggung 5 itu. Hei aku jadi melupakan si nomor 4 gara-gara kau. Jadi aku menoleh kembali ke anak nomor 5 tadi, sembari mencari si nomor 4. Hei aku masih kaget, kenapa dia tahan sekali duduk menghadap aku? Bahkan sambil senyum-senyum?. Lalu aku balas dengan tatapan sinis dan wajah masam. Ya.. kau mengahalangi syurga duniaku!! Lagi-lagi dia tersenyum. Jujur saja jantungku berdebar kencang, karena saat dia tersenyum dia sagat manis. Namun wajahku ini bak penuh kepalsuan. Sepertinya aku terlalu banyak menekuk wajah (jutek), padahal dalam hati aku senang hehe.
Lanjut ke babak 3, dia berdiri berkumpul bersama teman-temannya. Dengan senyuman sedikit ia tinggalkan kepadaku, ia bersiap melakukan pemanasan ringan sebelum bertanding lagi. Dia adalah pemain dengan tubuh paling pendek di tim nya. Dan kali ini, fokusku sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Aku sangat fokus melihat si nomor punggung 5 yang tadi duduk di depanku. Sedangkan si nomor 4? Ntahlah, aku sangat penasaran si nomor 5 ini. Kali ini mereka bermain sangat serius, karena ini babak penentuan apakah mereka akan lanjut atau tidak. Namun sayang sungguh sayang, mamaku mengajak aku pulang sebelum aku tahu siapa yang memenangkan pertandingan mereka. Aku pasrah dan aku pulang.
Sampai dirumah, disekolah dan dimanapun aku sangat kepikiran tentang si nomor 5. Aku bahkan tidak tahu, mereka berasal dari daerah mana, sekolah mana, angkatan berapa, menang atau tidak kemarin. Aku kesal pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku hanya fokus pada ketampanan mereka saja, apalagi awalnya aku hanya fokus pada si nomor 4. Hingga sampai saat ini, tepat ditahuj 2021, aku masih mengingat kejadian ini. Bisa dibilang, si nomor 5 adalah orang yang pertama kali membuatku kepikiran, sekaligus jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan... dia adalah cinta pertama seorang gadis SMP berusia 13.5 tahun 😂. Cinta monyet..
Tulisanku saat ini adalah pembuktian, bahwa aku sangat ingin bertemu lagi dengannya. Atau paling tidak, aku tahu namanya, dan kabarnya saat ini. Karena selama 8 tahun ini, aku masih saja kepikiran, siapa dia? Namanya siapa? Menang atau tidak saat pertandingan dulu haha. Karena sampai detik ini, kami hanya bertemu satu kali dan tak pernah bertemu kembali. Aku selalu berpikir, apakah hanya aku yang kepikiran? Atau hanya aku yang lebay? Ya.. masuk akal juga. Siapa aku? Haha
Namun berkat kalian juga, saat SMA aku mulai menyukai olaharaga ini, dan terus latihan hingga aku cidera parah. Dan saat kuliah, aku tidak melatih tubuhku lagi. Meskipun pikiranku masih ingat, kamu mungkin saat itu meledekku? Tak apa.. kamu juga tetap menjadi memori masa laluku yang sangat singkat, namun sangat aku ingat.
Jika kamu secara tak sengaja melihat tulisan ini, aku harap kamu baik-baik saja, diberi kesehatan selalu, dan teruslah tersenyum. Karena senyummu sangat manis, dan aku adalah orang yang paling lemah dengan senyuman manis, apalagi senyumanmu. Karena yang paling tampan saja kalah degan senyum sederhanamu :))
Salam hangat Riska Febrian, si anak SMP berambut panjang ikal, berponi, dan berbando biru.

Komentar
Posting Komentar