Bahadur Hatiku
Pagi memuncak membangunkanku. Bahana
burung selalu menyapa. Mimpi fanaku tentang baiatku padamu, berharap kekal fana
dan baka. Bakdu kutahu tentangmu, akupun terjatuh kejurang kepasrahan,
kebimbangan, kesukaran, keingintahuan, kebahagiaan. Balut senyummu
menghangatkan, hati ini meronta tak terkontrol, lemah. Respon yang membangatkan
kerja jantung, mereaksikan warna wajahku. Malu. Bangkit dari pikiran membelegu,
membantum diri darimu. Berusaha keras, namun hati tak dapat berbohong. Bahlul.
Hati telah terbelenggu olehmu.
Bara rasa yang membludak, aku
bersembunyi dari rasa. Sumpah kupandai menyembunyikan, namun rasa tetaplah ada.
Kuisi hati dengan kebanyolan, mengkamuflasekan hati yang sebenarnya. Bak
seperti basung, rasaku dengan ringannya keluar karenamu. Hati membayu memporoskan
diri kearahmu, dan behina dihati. Ingin rasa mulut beledi soal hati, namun
gengsi sebesar pasak, fakta rasa bak tiang mungil. Goyah. Beluwek hati kelamaan
menyimpan. Peka kah dirimu? Haha ibarat
aku semut dan kamu gajah, tak terlihat di pelipismu.
Lagi dan lagi membenahkan hati,
menutup rasa yang meluap, membungkus hati dengan kemunafikan, munafik akan
rasa. Faktanya jantung tak mahu berkontribusi dengan raga, otak belum mampu
mengatur kemunafikan. Balut senyummu lagi-lagi bahadur hatiku.

Typogenesisnya tulung mbak 😥
BalasHapus