Langsung ke konten utama

Bunga Tidur Hari Akhir

Assalamu'alaikum wr.wb.

         √ Doa Ketika Mimpi Buruk ( Bacaan Arab, Latin dan Makna)

Ini kejadian nyata dalam hidup saya, mengenai teguran Allah SWT. kepada hamba yang penuh dosa seperti saya. Mimpi bertemu hari akhir. 

Oh iya, sebelumnya saya mohon maaf kepada teman-teman karena belum bisa melanjutkan cerita horror saya, hehe. Harap maklum, meskipun saya mahasiswa penyuka rebahan, belum tentu saya tidak punya kegiatan. Ditambah lagi ada virus covid-19 yang merajalela karena kerakusan manusia itu sendiri, membuat saya setiap hari dihadapi cobaan tugas yang diberikan dosen. Eitsss, jangan banyak ngeluh ya wahai teman-temanku seperjuangan. 

Oke, kita lanjut mengenai bunga tidur yang saya dapatkan. Bunga tidur ini berbeda dengan bunga-bunga tidur yang lain, apalagi bunga yang ada dihatimu. Lah!! malah gombal haha.

Saya jelaskan secara spesifik ya, saya ingat betul alur mimpi yang saya alami ini. Antara bersyukur dan takut, sumpah hari akhir adalah hari terburuk yang pernah ada dan pasti akan terjadi. Kiamat. Begitu ringan manusia berucap melalui bibir lembutnya dan wara-wiri mengatakan di media sosial  "dateng aja kiamat, biar makhluk goblok dibumi musnah" atau "gpp kiamat, tuhan sudah lelah dengan manusia jaman sekarang". HEI!! Ringan bak gulali ya anda semua mengatakan itu? merasa sudah cukupkah amal kalian sehingga kalian seolah-olah meminta hari akhir ini datang?. Dengarkan saya ya wahai manusia budiman, saya yang hanya didatangi bunga tidur saja, nyata rasa ketakutannya. Dan kalian berbicara seolah siap merasakan? Astaghfirullahal'azim. Jika kalian ingin tahu, mari baca sebentar cerita saya dan semoga kita semua menghindari diri dari busuknya bersosial media. 

Malam itu, saya merasa bugar setelah sekian lama saya merasa lelah akan tugas sekolah, latihan (olahraga), ekstrakulikuler, dll. Karena saat itu saya sedang meliburkan diri, demi kesehatan tubuh yang telah diberikan oleh tuhan tanpa cacat sedikitpun. Didalam bunga tidur itu, saya sedang berada di kamar, tak tahu kenapa saya terbangun tiba-tiba didalam mimpi tersebut. bunyi deram dan kegaduhan membahana kudengar dari rongga-rongga ventilasi. Saat itu, sikap saya yang cuek saat di dunia terbawa betul kedalam bunga tidur ini haha, miris. Saya masih cuek dikamar, seolah-olah saya adalah makhluk anti sosial di daerah rumah saya. Namun satu hal yang membuat saya menarik diri memperhatikan lingkungan sekitar, yakni sinar mentari yang tak kunjung timbul dari arah timur, tepat di depan jendela saya. Kebetulan, setting waktu di dalam bunga tidur saya ini di subuh hari. Saya yang sangat penasaran di mimpi itu, beranjak dari tempat ternyaman untuk membuka jendela dan mencari tahu sumber kericuhan yang saya dengar. Dan... apa yang saya khawatirkan benar-benar nyata. Serasa jantung meronta ingin melepaskan diri dari tubuh yang penuh dosa ini, mata saya pun tanpa sadar melepaskan cairan penuh ketakutan. Matahari terbit dari arah barat, tepat dibelakang rumah saya. Saya, yang saat itu benar-benar ketakutan akan dosa-dosa yang belum tentu terampuni, benar-benar seperti semut yang sedang disiram minyak tanah. Emosi tak karuan, takut, sedih, pikiran yang selalu mengarah pada kematian. Tak tentu lagi wajah yang saya ekspresikan, selalu teringat akan berapa banyak saya berkata "Ah.." kepada ibu saya. Berapa banyak diri ini membuat khawatir ayah saya dengan kebodohan yang saya buat. Tertegun. 

Saya berusaha menenangkan diri dengan Al-Qur'an di dalam bunga tidur itu. Lembar-perlembar saya lewati ayat suci itu, dan saya berhenti membaca tatkala tetangga saya tiba-tiba meneriakkan nama saya untuk mengalihkan perhatianku padanya. "Riska!!!!". Saya beranjak lagi menuju jendela, mencari sumber suara tersebut. "Ada apa bude?". Bude menjawab dengan lirih "Lihat ka.. Al-Qur'an nya luntur… ". Untuk yang kedua kalinya saya benar-benar tenggelam dalam rasa ketakutan. Saya membuka lembaran Al-Qur'an yang sebelumnya saya baca. Dan benar, lembaran yang sudah saya baca benar-benar menghilang. Bak lukisan dengan kuas yang ditulis diatas batu, luntur begitu saja ketika terhentak percikan air. Luntur, menyisakan tinta-tinta kumuh dikertas suci itu. Saya juga manusia pada umumnya, menangis ketakutan dan membaca lagi ayat-ayat yang belum saya baca. Dalam sekejap, ayat-ayat yang telah saya baca menghilang. Saya membaca dengan lirih, terus membaca sampai ayat terakhir. Kitab yang awalnya berisi ayat suci seketika berubah menjadi buku kosong seperti biasa. Sudah dapat dibayangkan bagaimana kondisi manusia lain disekitar saya. Benar, seperti bulu-bulu yang berhamburan. Hanya kepanikan yang mengisi emosi dunia. Dan ketahuilah, hanya orang-orang beriman yang tetap tenang saat menghadapi hal ini nantinya. 

"Ngunggggggg…… " Jujur saya lupa akan suara yang saya yakini adalah terompet sangkakala. Tak pernah dibayangkan, cahaya mentari dan lunturnya Al-Qur'an adalah tanda yang dengan secepat kilat memanggil terompet untuk dibunyikan. Apakah tuhan telah memutuskan bahwa pada saat itulah hari akhir akan segera dilaksanakan?. Saya benar-benar tenggelam dalam bunga tidur saya. "Ngungggg.... ngunggggg... ngunggggggg". Sudah berapa kali suara itu di keluar. Pikiran saya sudah tidak jernih lagi, bahkan tak mampu menghitung seberapa banyak bunyi yang keluar. Saya terdiam di depan rumah, terduduk, termenung melihat tetangga-tetangga saya yang berlarian membawa harta benda duniawinya. Sampai ada seorang kakek di dekat rumah saya, dan yang saya ingat kakek itu sudah lama meninggal menghampiri saya. "Yo ndokkk". Sapa kakek itu dengan ramah. Seingat saya, semasa hidup kakek ini selalu tersenyum dan ramah kepada saya, dan selalu terlihat dimata saya, kakek ini selalu pergi kemasjid untuk sholat berjamaah. Lima waktu sholatnya dikerjakan di masjid. Didalam mimpi, kakek ini bertanya kepada saya "Kok diem aja ndok?". "Saya gak tahu mau ngapain kek. Mereka semua mau lari kemana saja saya gak tahu". Ucap saya pasrah. "Saya sangat takut kek, saat Al-Qur'an benar-benar luntur didepan mata saya kek". Lanjut saya. Kakek pun tersenyum kepada saya dan menemani duduk didepan rumah sembari menonton tetangga saya yang berlarian tak karuan. Kami hanya terdiam berdua, dan tak lama itu, kakek pun pamit untuk pergi. "Kakek pergi dulu ya.. ". Ucap kakek dengan senyumnya yang tulus, dengan pakaian putih bersinar lengkap dengan sorban yang saya tahu selalu dipakainya saat menuju masjid. "Kakek mau kemana?" Tanya saya yang tak kunjung mendapat balasan dari kakek. "Kek! Kakek!!! Aku mau ikut !!! Kakek!!". Saya berlari berusaha menyusul kakek, namun nyatanya saya berlari di tempat. Pasrah sudah. Saya menangis sambil menyebut kakek. Belum selesai saya menangis, gemuruh bumi terdengar ditelinga saya. Bumi bergetar diiringi tangisan saya yang tak kunjung reda. Saya benar-benar takut, orang-orang saat itu benar-benar tidak peduli lagi dengan orang lain. Bahkan saya tidak tahu kemana perginya keluarga saya, sehingga saya benar-benar sendirian didepan rumah. Tiba-tiba langit berubah mencekam berwarna abu kehitaman. Suara gemuruh semakin mendekat kearah saya, dan saya hanya bisa menangis dan menyebut nama Allah. 

Blash. Mata saya terbuka, membangunkan saya dari mimpi yang begitu seramnya, lebih seram dair makhluk ghaib yang biasa saya lihat. Termenung mengingat bunga tidur yang menhampiri saya. Bantal sudah dipenuhi air mata, air mata bunga tidur penuh kegelisahan. Saya diam di ranjang, sekiranya sampai 30 menit berlalu. Yang tertinggal di saya saat itu hanyalah rasa ketakutan. Saya ingat betul kalua saya bertemu dengan kakek yang sudah lama meninggal. Dan ibu saya pun mulai teriak memanggil nama saya, seperti biasanya, agar saya bangun dan mulai beraktifitas menjalani hari yakni bersekolah.

Itulah cerita saya mengenai bunga tidur pemberian tuhan. Bunga tidur ini betul-betul nyata saya alami, dan membuat saya memiliki ketakutan yang amat besar kepada tuhan. Allah sayang kepada saya, masih mau mengingatkan hambanya yang penuh khilaf akan dosa. Semoga teman-teman juga tercerahkan jika membaca ini, dan membuat patokan hidup tentang kehidupan fana ini hanya sementara. Jangan hanya jari gemulai kita yang lihai menyusun kata-kata kasar dan saling memaki, berkata yang tidak seharusnya hanya karena kekuatan jari yang terkontrol oleh otak yang meracuni kehidupan hati. 

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Salam hangat, Riska Febry

Komentar

  1. Mungkin kebanyakan ngerjain tugas dak, jadi berasa mau kiamat🤔 coba lain kali tidur nyenyak tanpa tugas👍🐱

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya kak. Tapi maaf kak mimpinya datang pas masih SMA. 3,5 tahun yg lalu ☺

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanisme

LAHAK KEMANUSIAAN Maret, 2020 sumber gambar: theconservation Evlusi industri hasil tangan manusia peradaban. Masa bumi bertambah dan hasrat manusia berimpact pada rantai kehidupan, ekosistem itu sendiri. Rakus. sifat pantas disemat pada manusia, makhluk sempurna pemberian Tuhan. Lahiriah manusia tak pantas disandingkan dengan binatang. Namun, akhlak manusia tidak dapat ditolerir lagi saat ini. Lalah kepunyaan manusia tak mampu membendung kehancuran yang semakin mendekat. Lahak tercium membuat ingin mati. Lalim manusia membunuh sekitarnya. Apa itu, kemanusiaan. Mata manusia melamur. Generasi menunduk lowpower pada fakta yang terjadi. Story-story tundukannya terarah ria'. Langguknya manusia membuat laras spesiesnya sendiri. Kemanusiaan cuma publish, kemunafikan sumber penyakit. Kelatifan tujuan fana mampu membutakan manusia. Viralnya ciptaan Tuhan yang bertugas, binatang menjadi bentuk evolusi keluguan manusia. Manusia berpunya, akhlak pun hilang. 

2013

  Memori ini terus melekat dikepalaku. Hei, saat ini aku sudah berada di 2021, jika dihitung sudah 8 tahun lamanya aku menyimpan rasa kekesalan ini. Bukan kesal terhadap siapa, namun aku kesal terhadap diriku sendiri yang tidak mau berbicara degannya saat itu.  2013 adalah tahun dimana aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Tepatnya di kelas 2. Saat itu, sekolah sedang gencar-gencarnya melakukan pelatihan untuk kegiatan o2sn. Kala itu, aku termasuk peserta fls2n cabang seni (rahasia hehe), yang nyatanya sangat tidak di dukung kedua orang tuaku. Orang tuaku sangat memaksa aku untuk ikut cabang olahraga (rahasia) itu, padahal aku sama sekali tidak suka olahrga. Alhasil aku di cemooh, di pandang rendah oleh kedua orang tuaku, maupun teman-temanku yang menganggap seni itu rendahan. Oke, meskipun begitu, aku tidak pernah menyerah untuk mengikuti cabang seni itu. Saat aku mengikuti lomba itu di tingkat kecamatan, aku gagal mendapatkan posisi pertama, melainkan hanya dipo...

Bahadur

Bahadur Hatiku Pagi memuncak membangunkanku. Bahana burung selalu menyapa. Mimpi fanaku tentang baiatku padamu, berharap kekal fana dan baka. Bakdu kutahu tentangmu, akupun terjatuh kejurang kepasrahan, kebimbangan, kesukaran, keingintahuan, kebahagiaan. Balut senyummu menghangatkan, hati ini meronta tak terkontrol, lemah. Respon yang membangatkan kerja jantung, mereaksikan warna wajahku. Malu. Bangkit dari pikiran membelegu, membantum diri darimu. Berusaha keras, namun hati tak dapat berbohong. Bahlul. Hati telah terbelenggu olehmu.  Bara rasa yang membludak, aku bersembunyi dari rasa. Sumpah kupandai menyembunyikan, namun rasa tetaplah ada. Kuisi hati dengan kebanyolan, mengkamuflasekan hati yang sebenarnya. Bak seperti basung, rasaku dengan ringannya keluar karenamu. Hati membayu memporoskan diri kearahmu, dan behina dihati. Ingin rasa mulut beledi soal hati, namun gengsi sebesar pasak, fakta rasa bak tiang mungil. Goyah. Beluwek hati kelamaan menyimpan. Peka...