Memori ini terus melekat dikepalaku. Hei, saat ini aku sudah berada di 2021, jika dihitung sudah 8 tahun lamanya aku menyimpan rasa kekesalan ini. Bukan kesal terhadap siapa, namun aku kesal terhadap diriku sendiri yang tidak mau berbicara degannya saat itu. 2013 adalah tahun dimana aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Tepatnya di kelas 2. Saat itu, sekolah sedang gencar-gencarnya melakukan pelatihan untuk kegiatan o2sn. Kala itu, aku termasuk peserta fls2n cabang seni (rahasia hehe), yang nyatanya sangat tidak di dukung kedua orang tuaku. Orang tuaku sangat memaksa aku untuk ikut cabang olahraga (rahasia) itu, padahal aku sama sekali tidak suka olahrga. Alhasil aku di cemooh, di pandang rendah oleh kedua orang tuaku, maupun teman-temanku yang menganggap seni itu rendahan. Oke, meskipun begitu, aku tidak pernah menyerah untuk mengikuti cabang seni itu. Saat aku mengikuti lomba itu di tingkat kecamatan, aku gagal mendapatkan posisi pertama, melainkan hanya dipo...
Layar PC ku menampilkan notif email masuk. Namun mataku terlalu kantuk untuk membukanya. Akhirnya aku terlelap jua dan siap merambah dunia mimpi Aku mencoba menaiki anak tangga itu. Rasa penasaran yang begitu besar membuatku terhisap di dunia parallel itu “ Untungnya aku terjebak bersama orang bodoh ini ” pikirku Kami menapaki tangga bersama dengan rasa riang. Riang? Iya karena aku diam-diam punya rasa padanya. Semakin lama anak tangga yang kami lewati pun terhenti pada satu titik. Titik lorong kegelapan dipenuhi kabut sejuk “ Hei apakah kau tidak penasaran kita ini mau kemana? ”. Tanyanya kepadaku “ Entahlah. Aku akan ketakutan jika sendirian. Karena ada dirimu aku sama sekali tidak takut meskipun kamu bodoh ”. Jawabku terang sambil tersenyum tipis “ BODOH??! ”. Jawabnya sambil teriak Aku tertawa sangat lepas saat itu, hingga kengerian tempat yang kami lewati tak begitu kami hiraukan. Sampai dimana kami berhenti pada satu titik cahaya....